Edisi Khusus 10 Tahun Pemerintahan Jokowi: Rapor Merah Rupiah, Kurs Meriang lalu Industri Kelimpungan
Jakarta – MENJELANG Joko Widodo lengser pada periode kedua kekuasaannya, 20 Oktober nanti, kami memutuskan untuk memeriksa janji-janjinya, mengamati apa yang tersebut telah dilakukan ia perbuat, dan juga menyajikannya pada sebuah edisi khusus. Edisi khusus 10 Tahun Jokowi ini terbit untuk memperingati penetapan Komisi Pemilihan Umum menghadapi kemenangan Jokowi pada pemilihan presiden 2014 pada 22 Juli. Mulai hari ini kemudian besok, Tempo.co akan menurunkan Edisi Khusus 10 Tahun Pemerintahan Jokowi.
Dalam salah satu janji kampanye Joko Widodo atau Jokowi pada 2014 menyangkut rupiah. Kala itu Jokowi menjanjikan jikalau terpilih berubah jadi presiden, nilai tukar rupiah akan datang menguat hingga dalam bawah Rupiah 10 ribu per dolar Amerikar Serikat (dolar AS).
10 tahun berselang dari janji itu, mendekati berakhirnya pemerintahan Jokowi, rupiah terus meriang. Pada akhir perdagangan Jumat, rupiah tergelincir 51 poin atau 0,31 persen bermetamorfosis menjadi Mata Uang Rupiah 16.301 per dolar Amerika Serikat dari sehari sebelumnya sebesar Rupiah 16.250 per dolar AS.
Tentu saja, sejumlah aspek yang mana mempengaruhi turun naiknya rupiah, baik eksternal maupun internal. Tapi ini satu di antaranya salah satu janji ketika masa kampanye, yang pada akhirnya tak sanggup dipenuhi Jokowi.
Dari internal di dalam di negeri, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebut, pangsa terus memantau perkembangan utang luar negeri (ULN) Indonesia ke China yang tersebut terpantau membengkak di 10 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi.
“Posisi terakhir pada Mei 2024 senilai US$ 22,86 miliar atau setara Mata Uang Rupiah 372,3 triliun (kurs Jumat, 26 Juli 2024 Simbol Rupiah 16.288 per dolar AS),” kata Ibrahim pada analisisnya hari terakhir pekan akhir pekan lalu.
Masih menurut Ibrahim pada analisisnya, berdasarkan data statististik utang luar negeri milik Bank Indonesi (BI), secara umum kedudukan utang luar negeri Tanah Air pada akhir Mei 2024 ini berada di dalam bilangan US$ 407,3 miliar atau setara Simbol Rupiah 6.634,1 triliun. Posisi yang dimaksud naik 1,8 persen (year on year atau yoy) dari Mei 2023 yang digunakan mencapai Rupiah 400,24 miliar.
Dampak rupiah meriang, satu per satu lapangan usaha pada negeri mulai tumbang dipukul pelemahan rupiah. Kuantitas tukar rupiah yang keok pada hadapan dolar Negeri Paman Sam menghantam salah satunya lapangan usaha tekstil dan juga garmen, akibat sektor ini sangat bergantung pada substansi baku impor.
Ada lapangan usaha yang memilih terus bertahan dengan keuntungan tipis, oleh sebab itu mau tak mau harus mengedarkan item di bawah harga jual pokok jualan (HPP). Ditambah lagi, kalah bersaing dengan barang jadi hasil impor.
“Tidak ada untung. Kalau yang mana speciality market, masih untung. Tapi kalau yang tersebut produk-produk basic, telah gak ada untung. Malah sudah ada jual di bawah HPP, makanya pada tutup,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat lalu Benang Filament Nusantara (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, pada Jumat, 26 Juli 2024.
Akibat mengirimkan komoditas di bawah HPP, akhirnya modal kerja perusahaan habis tergerus. Sejak awal 2024 saja, Redma mencatat, telah 21 sektor tekstil gulung tikar. “Bahkan beberapa perusahaan masih bersengketa dengan karyawan, sebab gak sanggup bayar pesangon. Cash flow sudah ada gak ada.”
Di bawah asosiasinya sendiri, tergabung 23 perusahaan. Hingga kini, sudah ada ada dua perusahaan yang tutup. Satu pada antaranya tutup tahun setelah itu dan juga satu lagi menyusul tahun ini. Sementara itu, 10 perusahaan telah mencicil pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya.
“Yang jalannya (operasional) 50 persen itu ada lima (perusahaan). Yang lain jalannya masih ada 60-70 persen,” kata Redma.
Sebenarnya, menurut perhitungan Redma, nilai tukar yang mana aman untuk sektor adalah Mata Uang Rupiah 14.000-14.500. “Sebetulnya kalau di Mata Uang Rupiah 14.000 sampai Simbol Rupiah 14.500 stabil dalam situ, telah cukup bagus buat kami,” katanya.
Ketua Gabungan Produsen Makanan serta Minuman Negara Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman berharap pemerintah sanggup mengendalikan rupiah agar tidak ada melebihi Rupiah 16.500 per dolar AS. “Jika melebihi hitungan itu, dampaknya akan sangat besar terhadap produksi produk-produk pangan di negeri,” ujar Adhi ketika ditemui di Artotel Senayan, Jakarta, Senin, 22 Juli 2024.
Dia mengungkapkan pelemahan rupiah meningkatkan ongkos produksi hingga 3 persen. Pasalnya, kata Adhi, sebagian besar komponen baku juga ingredients item pangan dalam Tanah Air masih diimpor.
Menurut Adhi, pelemahan rupiah sangat berdampak untuk produsen produk-produk makanan yang masih berskala kecil juga menengah. Dia mengatakan, produsen dari UMKM tiada bisa jadi menyetok unsur baku pada jumlah keseluruhan besar, sehingga harus mengeluarkan biaya mengikuti kenaikan tarif pangan yang digunakan diimpor.
ANNISA FEBIOLA | IKHSAN RELIUBUN | NANDITO PUTRA
Pilihan Editor: Hasil Pengujian Roti Aoka kemudian Okko Berbeda, Profesor ITB Ungkap Faktor Penyebabnya
Artikel ini disadur dari Edisi Khusus 10 Tahun Pemerintahan Jokowi: Rapor Merah Rupiah, Kurs Meriang dan Industri Kelimpungan




