Dikritik masalah Rencana BMAD Ubin Keramik, KADI: Kami Terbuka untuk Semua Masukan Konstruktif
Jakarta – Komite Anti-dumping Negara Indonesia (KADI) angkat bicara ihwal kritik yang digunakan dilayangkan sebagian pihak terhadap rencana penerapan Bea Masuk Anti-dumping (BMAD) ubin keramik. Kritik itu antara lain disampaikan oleh ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri.
Kepala KADI Danang Prasta Danial mengaku belum mampu memberikan tanggapan untuk kritik-kritik itu. Dia tak merinci alasannya tak berkomentar terhadap masukan-masukan yang mana ada. “Namun tentunya KADI terbuka untuk semua masukan konstruktif,” ujar Danang pada waktu dihubungi Tempo, Selasa, 23 Juli 2024.
KADI sebelumnya mengklaim sudah membuktikan adanya dumping ubin keramik dari perusahaan jika Cina ke Indonesia. Atas temuan itu, KADI merekomendasikan BMAD untuk ubin keramik dari sebelas kode Harmonized System (HS).
Dalam menyelidiki kerugian bidang ubin keramim pada negeri, KADI membagi rentang waktu penyelidikan berubah jadi tiga periode, yakni Juli 2019–Juni 2020, Juli 2020–Juni 2021, Juli 2021–Juni 2022. Sementara periode penyelidikan dumping mencakup Juli 2021–Juni 2022. KADI mengklaim impor ubin keramik dari Cina meningkat pada periode penyelidikan dumping ini.
Namun, menurut Faisal Basri, pada periode penyelidikan dumping itu, seluruh dunia berada dalam melalui proses pemulihan dunia usaha pasca-Covid 19. Karena itu, beliau menganggap wajar nomor impor dari Cina meningkat. Sebab negara tempat ditemukannya infeksi pertama virus Corona itu turut mengalami pemulihan pada 2022. “Ini mengubah seluruh cerita KADI itu,” ujar Faisal Basri di jumpa pers di dalam sebuah hotel pada kawasan Kuningan, Ibukota Selatan, Selasa, 16 Juli 2024.
Faisal Basri juga menyoroti sektor pengguna produk-produk ubin keramik, antara lain proses pembuatan serta real estate. Ketika bumi masih dilanda pandemi pada 2020, sektor pembangunan melambat 3,26 persen, sementara real estate berkembang 2,32 persen. Pada 2021, kedua sektor ini berkembang menjadi per individu 2,81 persen lalu 2,78 persen. Bidang pertumbuhan real estate turun bermetamorfosis menjadi 1,72 persen satu tahun kemudian. “Ini kan fenomena Covid. Jangan semua disalahkan ke Cina,” kata dia.
Mencermati laporan penyelidikan KADI, Faisal Basri mengaku tak menemukan satu pun kata “Covid-19”. Dia belaka menemukan pada halaman 51, penyelidikan itu didasari antara lain oleh keadaan perekonomian global. “Hidup-mati keramik ke Indonesia juga dipengaruhi keadaan perekonomian global. Itu kata KADI,” kata Faisal Basri.
Ekonom senior Universitas Negara Indonesia itu juga mengatakan, KADI tak mampu sesederhana itu melimpahkan kesalahan untuk impor keramik Cina. Menurut dia, ada ekspansi kapasitas akibat bursa telah mulai pulih. “Pemakai keramik ini pertumbuhannya naik,” kata Faisal Basri. Tak hanya sekali impor, beliau mengatakan, produksi di negeri mengambil bagian meningkat.
Artikel ini disadur dari Dikritik soal Rencana BMAD Ubin Keramik, KADI: Kami Terbuka untuk Semua Masukan Konstruktif


