Efek Dedolarisasi bagi Negara Berkembang, Lepas dari Kungkungan Dolar Negeri Paman Sam

JAKARTA – BRICS terus mempertajam program dedolarisasi dengan menggaet negara-negara tumbuh termasuk merek yang tersebut belum pernah terdengar dalam panggung global. Aliansi ini membuka arah baru diplomasi mengurangi diri dari ketergantungan dolar AS.
Langkah yang disebutkan akan memberikan secercah harapan dan juga menguatkan sektor ekonomi asli mereka itu dengan menggunakan mata uang lokal. BRICS secara perlahan namun pasti memajukan program dedolarisasi di tempat seluruh dunia untuk menurunkan nilai dolar AS.
Dedolarisasi merupakan proses penggantian dolar Negeri Paman Sam sebagai mata uang yang digunakan digunakan untuk perdagangan minyak dan/atau komoditas lainnya; membeli dolar Amerika Serikat untuk cadangan devisa; perjanjian perdagangan bilateral; kemudian aset berdenominasi dolar.
Dedolarisasi bagi negara tumbuh bermanfaat untuk mencapai serta memelihara kestabilan mata uang; diversifikasi pangsa ekspor dan juga impor; stimulasi penanaman modal pada mata uang rupiah; pengembangan lingkungan ekonomi keuangan di negeri; penurunan risiko dunia usaha juga keuangan; penguatan kedaulatan ekonomi; serta peningkatan peran regional juga internasional.
Fenomena dedolarisasi terjadi akibat Amerika Serikat (AS) mengalami defisit neraca pembayaran, hal yang disebutkan mengakibatkan dolar Amerika Serikat relatif bergejolak juga sensitif terhadap isu global. Negeri Paman Sam sudah pernah dilanda krisis perbankan kemudian dihadapkan dengan adanya peluang gagal bayar yang mana kemungkinan terjadi pada tanggal 1 Juni 2023 mendatang.
Mata uang yang berpotensi menggantikan dolar Negeri Paman Sam sebagai mata uang global, yakni euro; yuan China; rupee India; poundsterling Inggris, yen Jepang, mata uang BRICS kemudian mata uang lokal ASEAN.
Fenomena dedolarisasi terindikasi dari penurunan porsi penempatan pada mata uang dolar Amerika Serikat pada portofolio cadangan devisa bank sentral global secara agregat. Berdasarkan laporan Atlantic Council, jumlah total cadangan global dolar Amerika Serikat ketika ini turun nyaris 60% menjadi 59% pada 2024. Cadangan dolar Negeri Paman Sam mencapai 72% pada 2002 juga terus menurunkan pada dua dekade terakhir.
Selama 22 tahun, dolar Amerika Serikat turun 13% di dalam lingkungan ekonomi lantaran negara-negara berprogres menjauhkan mata uang ini dari cadangan devisa mereka. Tidak mengherankan mata uang lokal anggota BRICS, yuan naik 3% selama periode yang digunakan sama. Selain itu, Euro juga telah lama mengecil sebesar 19% dari 28% pada 2008.
Euro mengalami penurunan sebesar 9% hanya saja pada kurun waktu 16 tahun. Euro saat ini sudah pernah turun menjadi 19% dari 28% di area 2008. Sementara, Yuan telah terjadi meningkat menjadi 3%, peningkatan tiga kali lipat sejak 2016.
BRICS terus memasarkan penyelenggaraan mata uang lokal untuk operasi lintas batas sehingga menambah tekanan pada dolar AS. Jika tren dedolarisasi terus berlanjut maka cadangan global pada Simbol Dolar diproyeksikan turun pada bawah 50% di beberapa dekade mendatang.
Melansir dari analisa WatcherGuru, perkembangan ini dapat membunyikan lonceng peringatan serius pada sektor ekonomi Negeri Paman Sam yang digunakan mengarah pada bencana keuangan kemudian kejatuhan bursa saham.



