Perceraian Massal dalam Gresik Dipicu Judi Online, Psikolog UI: Berdampak Suka Bohong kemudian Gangguan Emosi
Jakarta – Baru-baru ini jagat maya dihebohkan dengan peningkatan persoalan hukum perceraian yang digunakan berlangsung di dalam Daerah Gresik yang mana dominan disebabkan oleh aktivitas judi online. Fakta dari Pengadilan Agama Gresik mencatatkan data sedikitnya ada 842 pasangan suami-istri yang tersebut mengakhiri hubungan rumah tangga sepanjang Januari-Juli 2024.
Psikolog dari Universitas Tanah Air (UI) Tjut Rifameutia Umar Ali mengakui bahwa aktivitas judi online berubah menjadi indikator pemicu perceraian dan juga rusaknya hubungan rumah tangga. Kondisi ini disebabkan oleh dampak judi online yang mana berujung pada sifat suka berbohong juga emosi tak stabil akibat stres akan kekalahan.
“Seseorang melakukan judi, terus-menerus berlangsung, disebut adiksi atau kecanduan. Ada goals yang dimaksud beliau tuju. Dia pikir akan memperoleh keberuntungan tetapi gagal. Lalu uang yang dimaksud dipunya habis, akhirnya banyak marah dan juga berbohong terhadap keluarga,” ujar Tia ketika dihubungi Tempo, Rabu, 17 Juli 2024.
Menurut Tia, seseorang yang tersebut terjerumus ke judi online bermula dari lingkungan kemudian pergaulannya yang dimaksud banyak melakukan aktivitas ini. Faktor penunjang lainnya juga berasal dari sosial media yang kerap menampilkan barang-barang mewah juga menyebabkan keinginan rakyat kelas menengah ke bawah untuk memilikinya juga.
“Para penjudi ini menganggap cara paling sederhana untuk mendapatkan uang kemudian sejenisnya itu lewat judi online. Mereka memikirkan yang tersebut enak-enaknya saja, menghayal akan menang lalu rutin lupa waktu,” ucap Tia, sembari menyebut, “Ketika berjudi, pasangan (suami atau istri) akan rutin tak berada pada rumah dan juga sibuk di luar. Kadang keluarga berubah menjadi tiada dipikirkan sebab efek adiksi atau kecanduan.”
Selain pergaulan, judi online juga bermula akibat tidak ada adanya pertahanan atau keyakinan pada diri suatu individu. Menurut Tia, setiap manusia sangat serta diharuskan mempunyai satu pegangan di hidupnya, mampu jadi iman, keyakinan, kepercayaan atau sejenisnya. Cara-cara sejenis ini disebut Tia dapat menangkal atau meminimalisir diri seseorang terbuai akan kecanduan yang digunakan merugikan tersebut.
“Dari sisi ilmiahnya, judi online ini bermula dari pergaulan yang tersebut tidaklah sehat, atau dari dorongan diri seseorang yang mana menginginkan sesuatu secara instan. Lalu dari sisi keagamaannya, juga ada faktornya, yaitu kurangnya benteng diri atau iman,” ucap Tia melalui sambungan seluler.
Judi online dapat menimbulkan keharmonisan pada keluarga berkurang. Fakta ini, menurut Tia, dipicu dari tak terciptanya perasaan saling miliki kemudian melengkapi lantaran salah satu pasangan terus berbohong. Misalnya dari segi finansial atau aktivitasnya pada luar rumah. Tia menyampaikan judi online memerlukan uang atau sejenisnya untuk dikeluarkankan, sedangkan saat berumah tangga, keuangan di keluarga harus diketahui kedua belah pihak.
“Jadi saat ditanya-tanya terus, kemana duit ini? Kamu kemana sekadar kemarin? itu akan menciptakan penjudi merasa tertekan kemudian berujung emosi. Ini adalah juga awal mula dari kekerasan di rumah tangga. Karena ia merasa stres akibat kalah, misalnya, kemudian dapat pertanyaan yang dimaksud menurut ia terkesan menekan,” ujar Tia.
Sejauh pengamatan Tia, judi online untuk ketika sekarang lebih banyak didominasi oleh para suami atau laki-laki. Tia belum menemukan adanya perkara secara massal yang tersebut memperlihatkan perempuan bergabung menjadi bagian dari aktivitas judi online lalu menyebabkan perceraian. Kendati demikian, ia mengumumkan kecanduan judi online tidak belaka sanggup terjadi pada laki-laki, melainkan perempuan juga berkemungkinan untuk berubah menjadi korbannya.
“Komitmen dengan itu diperlukan, judi online ini memang benar membinasakan dan juga menimbulkan kerugian. Saya menyimpulkan kalau judi online bukan sanggup diatasi semata-mata dengan nasihat atau kata-kata saja, ini penting diterapi serta dukungan banyak pihak juga dorongan dari diri pemain itu sendiri,” ujar Tia.
Artikel ini disadur dari Perceraian Massal di Gresik Dipicu Judi Online, Psikolog UI: Berdampak Suka Bohong dan Gangguan Emosi




