Burhanuddin Abdullah serta Andi Arief jadi Komisaris PLN, Pengamat: Melanggar Permen BUMN
Jakarta – Pengamat Badan Usaha Milik Negara atau BUMN dari Datanesia Institute, Herry Gunawan, memandang pengangkatan Burhanuddin Abdullah Harahap juga Andi Arief sebagai Komisaris Utama lalu Komisaris Independen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN melanggar aturan. Pasalnya, kedua khalayak dekat presiden terpilih Prabowo Subianto itu masih menduduki jabatan di dalam partai politik.
Burhanuddin ketika ini menjabat Ketua Dewan Pakar Partai Gerindra. Namanya tercatat pada Keputusan Menteri Hukum serta HAM Nomor M.HH-23.AH.11.01 Tahun 2020. Begitu pula pada Keputusan Menkumham Nomor M.HH-15.AH.11.01 Tahun 2020, nama Andi Arief tercatat sebagai Ketua Badan Pemenangan pemilihan atau Bappilu Partai Demokrat.
Pada pemilihan raya Presiden 2024 lalu, Burhanuddin juga Andi Arief tergabung di Tim Kampanye Nasional atau TKN Prabowo-Gibran. Burhanuddin menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar, sementara Andi Arief bergabung dengan pasukan itu seiring dukungan partainya untuk Prabowo-Gibran.
Herry berpendapat, pengangkatan politisi pengurus partai ini bertentangan dengan aturan main yang digunakan dibuat oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Aturan itu yakni Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-3 Tahun 2023 tentang Organ lalu Sumber Daya Individu Badan Usaha Milik Negara.
“Menurut saya, pengangkatan Burhanuddin Abdullah kemudian Andi Arief mengabaikan perihal etis, bahkan cenderung nyerempet pelanggaran terhadap peraturan,” ujar ia pada waktu dihubungi Tempo, Rabu, 24 Juli 2024.
Bersama Burhanuddin Abdullah, ketika ini ada lima pengurus Partai Gerindra yang mana berubah jadi komisaris BUMN. Mereka yakni Fauzi Baadila dalam PT Pos Nusantara (Persero) Fuad Bawazir ke PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, Simon Aloysius Mantiri di PT Pertamina (Persero), Felicitas Tallulembang di dalam PT Bank Syariah Tanah Air Tbk.
Fauzi merupakan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra. Sementara Fuad, Simon, kemudian Felicitas menjabat anggota Dewan Pembina ke partai berlambang kepala burung garuda itu. Seperti Burhanuddin, keanggotaan mereka itu disahkan Menkumham Yasonna Laoly melalui Keputusan Menkumham Nomor M.HH-23.AH.11.01 Tahun 2020.
Berdasarkan Pasal 18 ayat (1) huruf a Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-3 Tahun 2023, diatur untuk dapat diangkat sebagai Dewan Komisaris, harus memenuhi kriteria antara lain bukanlah pengurus partai politik. “Ini sungguh disayangkan. Peraturan dibuat malah untuk dilanggar sendiri,” kata Herry.
Politikus Partai Gerindra sekaligus Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, belum merespons permintaan konfirmasi Tempo perihal status keanggotaan Burhanuddin Abdullah ke partai itu.
Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra tak membantah juga membenarkan bahwa Andi akan mundur sebagai anggota Partai Demokrat oleh sebab itu aturan internal tak membolehkan pengurus partai merangkap jabatan sebagai komisaris. Dia mengatakan kebijakan itu masih mengawaitu pertarungan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY dengan Andi.
“Masih menanti perjumpaan dengan Mas AHY. Langkah ke depan seperti apa, akan mengikuti aturan yang mana berlaku,” kata Herzaky pada waktu dihubungi pada Selasa, 23 Juli 2024.
Artikel ini disadur dari Burhanuddin Abdullah dan Andi Arief jadi Komisaris PLN, Pengamat: Melanggar Permen BUMN


